Jumat, 20 Agustus 2010

Mengukir Puisi di Matamu


Matamu sepasang bola hitam yang teduh. Menatapmu, seperti berteduh dibawah pohon rindang tepi sungai bening yang mengalir pelan dihiasi teratai. Aku kecemplung, jatuh. Terhanyut dalam aliran lembut tatapan matamu; aku jatuh cinta. Cinta mengalir perlahan namun pasti disela-sela air matamu yang jatuh di permukaan wajah. Aku terkesima memandanginya.

Dan di teduh tatapanmu itu, aku ingin mengukir puisi. Karna disana ada guratan warna yang menjadikan segalanya indah. Menjadikan rindu melambung di langit biru. Lalu awan bermuatan menjatuhkannya sebagai gerimis hening di penghujung petang, dan berangsur deras menjadi rinai. Percayalah, aku sudah menyiapkan payung untuk kita berteduh, dan menyaksikan hasil tetesan rindu itu dalam bentuk pendaran tujuh warna yang menghiasi senjakala.

Kupungut bulu matamu yang terjatuh. Konon itu adalah pertanda merindu. Kujadikan pertanda rindu itu kuas untuk mengukir larik-larik puisi di secarik hatimu. Agar semata kau melihat seutuhnya ketulusanku. Karna kutahu jemariku tak mampu membikin setiap aksara menjadi seindah seperti tatapan matamu. Tidak juga bibirku, dan tidak juga mataku. Tidak ada yang menandingi indah matamu.

Selasa, 13 Juli 2010

Tanya Tak Terjawab


“Pergilah, tinggalkan aku sendiri!” Katanya.

“Tidak mau, aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku mencintaimu, tolong pahami perasaanku!” Seruku.

“Aku tidak mau melihatmu terluka mencintaiku. Sudahlah, tinggalkan aku!” Ucapnya lagi.

Kugenggam erat tangannya, kutatap matanya lekat-lekat. “Katakan, kamu mencintaiku kan? Kita bisa menghadapi ini bersama-sama. Sungguh, aku benar-benar mencintaimu.”

“Aku tidak pernah mencintaimu! Sudahlah, kita tidak ditakdirkan bersama, lupakan aku!” Dia menepis tanganku.

Hening...

Hanya alunan rinai hujan yang terdengar. Aku terpaku, hanya terdiam bisu, lidah sudah tak mampu berucap sepatah kata pun. Lututku bergetar hebat, air dipelupuk mata mulai berjatuhan ketika dia membalikkan badan. Dia melangkah dengan tergontai meninggalkanku. Aku yakin dia menangis, tapi dia hanya tertunduk, menoleh lagi pun tidak.

Sampai akhir bayangannya benar-benar menghilang dibalik rinai hujan, aku tetap terdiam bisu. Aku tak pernah tahu apa makna yang tergambar pada lesung senyumnya, juga apa arti tangisannya. Hanya kerapuhan yang terlihat dari kedalaman matanya. Dan aku percaya dia mencintaiku.

Hati yang merepih menjadi puing-puing kecil kian tak berbentuk lagi, dimana cinta yang tulus itu kandas bersama hujan. Tabir rahasia tak jua terungkap, apa alasan dibalik semua ini? Sesungguhnya masih banyak yang tidak kita mengerti, tapi kenapa semua itu tidak juga terjawab? Kenapa setiap harapan, selalu menggoreskan kepedihan?

Rabu, 07 Juli 2010

Tentang Seseorang


diujung lidahmu kudengar jantungku berdebar
diujung jemarimu kurasakan darahku mengalir

gemulai dedaunan menari disepertiga angin
kepupu mendayu saksikan kuncup bermekaran
berdenting melodi syahdu membawa namamu
aku mematung hanya terdiam terpaku

didalam sembilu matamu, lidahku kelu
didalam dekapanmu, meruah rinduku

kasih, apa yang kurasa sungguh apa adanya
tak perlu kau terka seberapa hebat jantungku berdebar
juga tak perlu kau takar sebanyak apa nadi mengalir
karna aku percaya kau juga merasakannya

Selasa, 06 Juli 2010

HITAM


malam semakin lindap merayap
tiada satupun semburat diatap
gelap semakin pekat menyekat
rintihan terdengar menyanyat

gigil malam semakin memisau
mengucur darah di pergelangan
lidah sudah tak mampu meracau
hanya erangan pecah kesunyian

kabut malam semakin menebal
lolongan anjing lirih terdengar
merah menggenang pada lantai
basahi raga yang hilang kesadaran

malaikat pencabut nyawa bersiap
mata terbelalak ratap menatap
hingga sesal berjubal tiada guna
karna maut sebentar lagi menyapa

Jumat, 02 Juli 2010

Suicide Dolphin & Reghina


ku tersenyum
menatapi langit langit
tapi entah apa yang kuperhatikan
atau apa yang membuatku tersenyum

sesaat larut pada silam
perih dihantar angin lewat jendela
perlahan menggugurkan cahaya mata
tak ada yang mengalir
tak ada yang kufikir

hanya angin mendesir
mengalir
bagai air yang melengkung di pipi
tersapu bayu ketika memalingkan wajah
menatap pada pisau disela jemari
: nadi

mulai terasa lelah menghela
paruparuku sesak diselimuti jelaga
sepanjang hari melakoni jati diri
dengan konsep yang mereka ingini
berlutut tak berdaya
dicambuki kata setia
sementara, yang digenggam hanya sia sia

sia sia

biar kuselesaikan sia sia ini
agar paruparu tak lagi sesak terselimut jelaga
aku ingin terbang
aku ingin bebas
aku ingin menari di udara

sambil mencibir pada mereka para dewa

“Sret...”

seketika anyir menggerayang jilati pergelangan
menghantar nanar di kesadaran
aku menatapi aku yg sendiri
mengakhiri kepiatuan hati

tak adalagi kelabu bertopengkan pelangi
tak adalagi luka bertopengkan keikhlasan
hanya darah yang mengalir di lantai lantai
menggenang

aku be?bas!

Kamis, 01 Juli 2010

Takdir Kacang & Kulit


Kulit masih termangu disela sampah-sampah yang berserakan. Ia sudah tak tahu lagi mesti berbuat apa, menyaksikan kacang yang sedang diatas penggorengan terombang-ambing oleh pengaduk, dan tentu saja merintih kepanasan.

“Ah tidak, dia tidak akan menderita. Dia rela melakukan semua ini agar bermanfaat oleh bagi banyak.” Tepis kekhawatiran Kulit.

Kulit sangat menyayangi Kacang, mereka sudah bersama sejak kecil. Selama ini Kulit selalu melindungi Kacang dari apapun. Tetapi ketika takdir berkehendak lain, Kulit tidak bisa berbuat apa-apa. Hati kecilnya bertanya-tanya, “Kenapa kami harus dipisahkan seperti ini? Atau kenapa bukan aku saja yang di goreng?”

Tetapi pada akhirnya takdir tetap harus berjalan. Mereka tetap berpisah, Kacang tetap untuk di makan, dan Kulit tetap untuk di buang. Sungguh miris, padahal mereka sedari kecil selalu bersama, tetapi harus dipisahkan seperti ini.

Kelana Gadis Kecil


Gadis kecil itu bukan sedang menatap gemintang. Ia hanya tak ingin mentari segera bersinar, karna kabut masih tak tergenggam. Dan sampai saat ini ia masih tak tahu, mana awan yang ia cari. Mungkin awan sedang menebar hujan, hingga semua nampak kelabu pekat bagi si gadis.

Tidak! Awan tampak berarak. Hanya saja gadis itu tak tahu, mana awan yang ia punya, bahkan ia tidak yakin memiliki awan. Setiap embun menjadi peluh ia selalu begitu, menengadahkan kepala menatap langit-langit, tapi tak kunjung menemukan jawaban. Kasihan, tapi apa lacur, semua merayap pergi.

Ternyata awan itu sepupu dua kalinya anak gadis itu, ibu dari ibu awan adalah sodara dengan ayah dari ayah anak itu, mreka beberapa kali bertemu di stasiun, tapi belum saling mengenal. Dipematang sawah, sungai kecil dekat desa, dan di emperan toko. sayang, mereka tidak bertemu diatas gedung-gedung mewah. Kalau iya, pasti mereka udah loncat bunuh diri bersama-sama.

Dan gadis itu tetap tak menemukan kabut maupun awannya, meski embun telah kembali menjadi peluh terbias sinar mentari. Dia pun kembali "mengecrekan" botol plastik yang telah diisi dengan kerikil diperempatan lampu merah, demi sesuap nasi, dan demi memperpanjang sesak ini.


*Kolaborasi bersama Ullian Saputra

Rabu, 30 Juni 2010

Akhir Yang Mengenaskan


terhenyak aku di keheningan malam
suasana tampak lengang
melihat ada jejak-jejak merah
sepertinya darah

ah, darah tercecer di jalan raya

sungguh malang nasibmu
hai korban tabrak lari
tubuhmu hancur berkeping-keping
isi perutmu terburai

tikus yang malang

kendati kau mahluk pengerat
banyak yang melarat
oleh jerat-jerat

: tikus biadab!

pun kau mati meninggalkan mambu busuk
tak satupun yang iba melihat kau bersimbah darah
bahkan mereka semakin murka
menambahi menggilas tubuhmu yang telah lebur

nikmatilah mimpi indahmu di neraka

Masih Tentang Langit


Adalah dimana ketika langit mulai muak dengan prilaku mahluk yang diserahi keikhlasan oleh bumi, yang membuat bumi rusak, semerta langit pun ikut menanggung akibatnya. Ini masih tentang langit, ketika ia berkata;

"Ingin kuruntuhkan langitku! Agar mereka tersadar, siapa sejatinya mereka."

Masih Tentang Langit


ketika gelapnya berangsur membiru
lelapnya terjaga ketika sang kokok mengusir sang bulan
diganti dengan rona hangat sang surya
menyapu sisa-sisa embun yang tertinggal pada kelopak bunga
mengucapkan selamat pagi pada dunia

ini masih tentang langit
ketika suam surya menyapa
menyapa hangat para pejalan kaki
memberi semangat para petani
menyinari kuncup bunga yang tengah bermekaran
membuat burung berkicau merdu
dan bercumbu dibalik awan yang berarak

ini masih tentang langit
ketika gadis kecil bertanya;
"kemana perginya bintang?"

Masih Tentang Langit


ketika merona jingga menghiasi angkasa
menari gemulai bulan setengah bundar
tanpa gemintang

akankah bulan merindu bintang?

ah, pendar bulan nampak pucat pasi
hanya halilintar menghiasi
bukan hardiknya ingin melukai
mau bagaimanalagi?
bulan tertikam sepi
sendiri

ini masih tentang langit
ketika biduk-biduknya merayap gelap
ketika bulan terhalang awan pekat
ketika kilatan cahaya tepis sesaat

ini masih tentang langit
ketika bulan tak lagi merindu bintang
ketika bulan tak tergapai

ini masih tentang langit
ketika bulan bertanya, "kenapa aku harus ada?"

Tentang Langit


ini tentang langit
saat dia sekejap muram kelabu
saat dia bergetar hebat menggelegar
karna loncatan atom dari awan bermuatan
karna perbedaan potensial antara bumi dan awan

ini masih tentang langit
saat Dolphin bertanya, "kenapa dia murka?"

ini masih tentang langit
saat air jatuh ke bumi dengan kecepatan rendah
dengan titik-titik air memenuhi angkasa
bertanggakan udara
jatuh ke bumi

membuat tanah, reranting, rerumputan
mengeluarkan aroma petrichor
menghipnotis untuk meresonansikan ingatan masa lalu

saat hujan melagu untuk mereka yang merindu

ini masih tentang langit
saat Ranting bertanya, "darimana lahirnya hujan?"

Hembusan Angin Dimusim Panas

Sinar mentari yang terik, langit biru luas membentang, awan nampak berarak. Angin berhembus kencang, membelai lembut sekujur tubuh. Membawa dedaunan yang meninggalkan ranting berserakan di angkasa. Luruh, simpang siur mengikuti arah angin.

Sorot matamu yang sembab begitu tepat menusuk jantungku. Tak ada kata yang pantas terucap dari lidah yang kelu tanpa memperdulikan teriakan hati yang menyayat kalbu. Waktu seakan berhenti berputar, darah seakan berhenti mengalir.

“Pergilah...” Bisikku lirih.

Matamu yang sembab mulai menitikkan bulir-bulir bening, bagai bola-bola Kristal yang jatuh dari pelupuk matamu. Lututku bergetar hebat, tanpa bisa kucegah air mataku ikut luruh, melebur dengan air matamu.

Kau memelukku erat...

Mungkin waktu kan terus berlalu. Dan manusia hanyalah butir pasir berserakan di hamparan jaman, yang mengikuti kemana angin takdir berhembus. Mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi menjadi karat, mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita angankan. Walau sungguh waktu berkuasa, tapi kasihku padamu tak akan pudar olehnya.

Pergilah, pergilah sayang, tak perlu menoleh padaku. Aku akan baik-baik saja disini, tidak ada yang perlu kau cemaskan. Biarkan angin terus berhembus, biarkan musim terus berganti, dan biarkan aku membisikkan beberapa kata sebelum kau melangkah;

“Aku menantimu disini.”

Saksi Bisu Gugur Daun


ketika dedaunan mulai luruh
terombang ambing tersibak angin
menghantam batang pun akar tergoyahkan
terburai daun memenuhi angkasa

kendati akar tetap kuat menopang
tapi tetap saja daun satupersatu gugur
berjatuhan merayap ketanah
mengering seiring berjalannya waktu

dan bangku terisak lirih menyaksikan dedaunan berserakan
juga dirinya, yang semakin hari semakin lapuk dan berlumut
tiada lagi sesiapa yang bercengkrama mesra diatasnya
apa lacur, semua merayap pergi dan tak akan kembali

hanya daundaun kering terduduk bisu diatas bangku

Selasa, 29 Juni 2010

Ketika Suatu Petang


Maka pada suatu petang aku ingin sekali tertunduk menangis di sepanjang lorong. Lorong dimana tiada bias semburat senja, baik secara langsung, maupun dari pantulan kaca-kaca rumah. Entah menangisi apa, hanya ingin menangis saja tanpa ada orang yang bertanya, “Kenapa?”

Lalu juga ingin aku mengamuk menjerit-jerit berteriak mengumpat sejadi-jadinya. Kutendang tiap kaleng-kaleng yang berserakan di sepanjang jalan, lalu kukencingi pojokan, dan kupecahkan kaca yang memantulkan wajahku. Tapi aku tetap tidak ingin orang bertanya, “Kenapa?”

Maka kuputuskan hanya menangis saja sambil tertunduk lesu. Tidak dengan meraung-raung, hanya menangis tanpa suara. Dan akhirnya terpatung ketika sampai di tikungan menyaksikan langit mengabu dan menjatuhkan air bening. Lalu membiarkan air menghujam wajahku, dan aku dengan riang berkata:

“Ahhh...”

Kelabu


Saat langit bergetar, kala langit mengerang, ketika langit sudah tak mampu menahan air dari bumi yang menguap karna ego sang mentari, ia tetap mencoba menampungnya, tetap mencoba menahannya menangis. Meski terkadang kelabu tak mampu membendung dan akhirnya langitpun menangis, juga meski kelabu terberai, sekerjap menjadi putih, dan tanpa pelangi.

Coba kau tengok mega-mega kala kelabu, karna itu adalah aku...