Selasa, 13 Juli 2010

Tanya Tak Terjawab


“Pergilah, tinggalkan aku sendiri!” Katanya.

“Tidak mau, aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku mencintaimu, tolong pahami perasaanku!” Seruku.

“Aku tidak mau melihatmu terluka mencintaiku. Sudahlah, tinggalkan aku!” Ucapnya lagi.

Kugenggam erat tangannya, kutatap matanya lekat-lekat. “Katakan, kamu mencintaiku kan? Kita bisa menghadapi ini bersama-sama. Sungguh, aku benar-benar mencintaimu.”

“Aku tidak pernah mencintaimu! Sudahlah, kita tidak ditakdirkan bersama, lupakan aku!” Dia menepis tanganku.

Hening...

Hanya alunan rinai hujan yang terdengar. Aku terpaku, hanya terdiam bisu, lidah sudah tak mampu berucap sepatah kata pun. Lututku bergetar hebat, air dipelupuk mata mulai berjatuhan ketika dia membalikkan badan. Dia melangkah dengan tergontai meninggalkanku. Aku yakin dia menangis, tapi dia hanya tertunduk, menoleh lagi pun tidak.

Sampai akhir bayangannya benar-benar menghilang dibalik rinai hujan, aku tetap terdiam bisu. Aku tak pernah tahu apa makna yang tergambar pada lesung senyumnya, juga apa arti tangisannya. Hanya kerapuhan yang terlihat dari kedalaman matanya. Dan aku percaya dia mencintaiku.

Hati yang merepih menjadi puing-puing kecil kian tak berbentuk lagi, dimana cinta yang tulus itu kandas bersama hujan. Tabir rahasia tak jua terungkap, apa alasan dibalik semua ini? Sesungguhnya masih banyak yang tidak kita mengerti, tapi kenapa semua itu tidak juga terjawab? Kenapa setiap harapan, selalu menggoreskan kepedihan?

Rabu, 07 Juli 2010

Tentang Seseorang


diujung lidahmu kudengar jantungku berdebar
diujung jemarimu kurasakan darahku mengalir

gemulai dedaunan menari disepertiga angin
kepupu mendayu saksikan kuncup bermekaran
berdenting melodi syahdu membawa namamu
aku mematung hanya terdiam terpaku

didalam sembilu matamu, lidahku kelu
didalam dekapanmu, meruah rinduku

kasih, apa yang kurasa sungguh apa adanya
tak perlu kau terka seberapa hebat jantungku berdebar
juga tak perlu kau takar sebanyak apa nadi mengalir
karna aku percaya kau juga merasakannya

Selasa, 06 Juli 2010

HITAM


malam semakin lindap merayap
tiada satupun semburat diatap
gelap semakin pekat menyekat
rintihan terdengar menyanyat

gigil malam semakin memisau
mengucur darah di pergelangan
lidah sudah tak mampu meracau
hanya erangan pecah kesunyian

kabut malam semakin menebal
lolongan anjing lirih terdengar
merah menggenang pada lantai
basahi raga yang hilang kesadaran

malaikat pencabut nyawa bersiap
mata terbelalak ratap menatap
hingga sesal berjubal tiada guna
karna maut sebentar lagi menyapa

Jumat, 02 Juli 2010

Suicide Dolphin & Reghina


ku tersenyum
menatapi langit langit
tapi entah apa yang kuperhatikan
atau apa yang membuatku tersenyum

sesaat larut pada silam
perih dihantar angin lewat jendela
perlahan menggugurkan cahaya mata
tak ada yang mengalir
tak ada yang kufikir

hanya angin mendesir
mengalir
bagai air yang melengkung di pipi
tersapu bayu ketika memalingkan wajah
menatap pada pisau disela jemari
: nadi

mulai terasa lelah menghela
paruparuku sesak diselimuti jelaga
sepanjang hari melakoni jati diri
dengan konsep yang mereka ingini
berlutut tak berdaya
dicambuki kata setia
sementara, yang digenggam hanya sia sia

sia sia

biar kuselesaikan sia sia ini
agar paruparu tak lagi sesak terselimut jelaga
aku ingin terbang
aku ingin bebas
aku ingin menari di udara

sambil mencibir pada mereka para dewa

“Sret...”

seketika anyir menggerayang jilati pergelangan
menghantar nanar di kesadaran
aku menatapi aku yg sendiri
mengakhiri kepiatuan hati

tak adalagi kelabu bertopengkan pelangi
tak adalagi luka bertopengkan keikhlasan
hanya darah yang mengalir di lantai lantai
menggenang

aku be?bas!

Kamis, 01 Juli 2010

Takdir Kacang & Kulit


Kulit masih termangu disela sampah-sampah yang berserakan. Ia sudah tak tahu lagi mesti berbuat apa, menyaksikan kacang yang sedang diatas penggorengan terombang-ambing oleh pengaduk, dan tentu saja merintih kepanasan.

“Ah tidak, dia tidak akan menderita. Dia rela melakukan semua ini agar bermanfaat oleh bagi banyak.” Tepis kekhawatiran Kulit.

Kulit sangat menyayangi Kacang, mereka sudah bersama sejak kecil. Selama ini Kulit selalu melindungi Kacang dari apapun. Tetapi ketika takdir berkehendak lain, Kulit tidak bisa berbuat apa-apa. Hati kecilnya bertanya-tanya, “Kenapa kami harus dipisahkan seperti ini? Atau kenapa bukan aku saja yang di goreng?”

Tetapi pada akhirnya takdir tetap harus berjalan. Mereka tetap berpisah, Kacang tetap untuk di makan, dan Kulit tetap untuk di buang. Sungguh miris, padahal mereka sedari kecil selalu bersama, tetapi harus dipisahkan seperti ini.

Kelana Gadis Kecil


Gadis kecil itu bukan sedang menatap gemintang. Ia hanya tak ingin mentari segera bersinar, karna kabut masih tak tergenggam. Dan sampai saat ini ia masih tak tahu, mana awan yang ia cari. Mungkin awan sedang menebar hujan, hingga semua nampak kelabu pekat bagi si gadis.

Tidak! Awan tampak berarak. Hanya saja gadis itu tak tahu, mana awan yang ia punya, bahkan ia tidak yakin memiliki awan. Setiap embun menjadi peluh ia selalu begitu, menengadahkan kepala menatap langit-langit, tapi tak kunjung menemukan jawaban. Kasihan, tapi apa lacur, semua merayap pergi.

Ternyata awan itu sepupu dua kalinya anak gadis itu, ibu dari ibu awan adalah sodara dengan ayah dari ayah anak itu, mreka beberapa kali bertemu di stasiun, tapi belum saling mengenal. Dipematang sawah, sungai kecil dekat desa, dan di emperan toko. sayang, mereka tidak bertemu diatas gedung-gedung mewah. Kalau iya, pasti mereka udah loncat bunuh diri bersama-sama.

Dan gadis itu tetap tak menemukan kabut maupun awannya, meski embun telah kembali menjadi peluh terbias sinar mentari. Dia pun kembali "mengecrekan" botol plastik yang telah diisi dengan kerikil diperempatan lampu merah, demi sesuap nasi, dan demi memperpanjang sesak ini.


*Kolaborasi bersama Ullian Saputra