
“Pergilah, tinggalkan aku sendiri!” Katanya.
“Tidak mau, aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku mencintaimu, tolong pahami perasaanku!” Seruku.
“Aku tidak mau melihatmu terluka mencintaiku. Sudahlah, tinggalkan aku!” Ucapnya lagi.
Kugenggam erat tangannya, kutatap matanya lekat-lekat. “Katakan, kamu mencintaiku kan? Kita bisa menghadapi ini bersama-sama. Sungguh, aku benar-benar mencintaimu.”
“Aku tidak pernah mencintaimu! Sudahlah, kita tidak ditakdirkan bersama, lupakan aku!” Dia menepis tanganku.
Hening...
Hanya alunan rinai hujan yang terdengar. Aku terpaku, hanya terdiam bisu, lidah sudah tak mampu berucap sepatah kata pun. Lututku bergetar hebat, air dipelupuk mata mulai berjatuhan ketika dia membalikkan badan. Dia melangkah dengan tergontai meninggalkanku. Aku yakin dia menangis, tapi dia hanya tertunduk, menoleh lagi pun tidak.
Sampai akhir bayangannya benar-benar menghilang dibalik rinai hujan, aku tetap terdiam bisu. Aku tak pernah tahu apa makna yang tergambar pada lesung senyumnya, juga apa arti tangisannya. Hanya kerapuhan yang terlihat dari kedalaman matanya. Dan aku percaya dia mencintaiku.
Hati yang merepih menjadi puing-puing kecil kian tak berbentuk lagi, dimana cinta yang tulus itu kandas bersama hujan. Tabir rahasia tak jua terungkap, apa alasan dibalik semua ini? Sesungguhnya masih banyak yang tidak kita mengerti, tapi kenapa semua itu tidak juga terjawab? Kenapa setiap harapan, selalu menggoreskan kepedihan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar