
Matamu sepasang bola hitam yang teduh. Menatapmu, seperti berteduh dibawah pohon rindang tepi sungai bening yang mengalir pelan dihiasi teratai. Aku kecemplung, jatuh. Terhanyut dalam aliran lembut tatapan matamu; aku jatuh cinta. Cinta mengalir perlahan namun pasti disela-sela air matamu yang jatuh di permukaan wajah. Aku terkesima memandanginya.
Dan di teduh tatapanmu itu, aku ingin mengukir puisi. Karna disana ada guratan warna yang menjadikan segalanya indah. Menjadikan rindu melambung di langit biru. Lalu awan bermuatan menjatuhkannya sebagai gerimis hening di penghujung petang, dan berangsur deras menjadi rinai. Percayalah, aku sudah menyiapkan payung untuk kita berteduh, dan menyaksikan hasil tetesan rindu itu dalam bentuk pendaran tujuh warna yang menghiasi senjakala.
Kupungut bulu matamu yang terjatuh. Konon itu adalah pertanda merindu. Kujadikan pertanda rindu itu kuas untuk mengukir larik-larik puisi di secarik hatimu. Agar semata kau melihat seutuhnya ketulusanku. Karna kutahu jemariku tak mampu membikin setiap aksara menjadi seindah seperti tatapan matamu. Tidak juga bibirku, dan tidak juga mataku. Tidak ada yang menandingi indah matamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar