Tampilkan postingan dengan label Kolaborasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolaborasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juli 2010

Suicide Dolphin & Reghina


ku tersenyum
menatapi langit langit
tapi entah apa yang kuperhatikan
atau apa yang membuatku tersenyum

sesaat larut pada silam
perih dihantar angin lewat jendela
perlahan menggugurkan cahaya mata
tak ada yang mengalir
tak ada yang kufikir

hanya angin mendesir
mengalir
bagai air yang melengkung di pipi
tersapu bayu ketika memalingkan wajah
menatap pada pisau disela jemari
: nadi

mulai terasa lelah menghela
paruparuku sesak diselimuti jelaga
sepanjang hari melakoni jati diri
dengan konsep yang mereka ingini
berlutut tak berdaya
dicambuki kata setia
sementara, yang digenggam hanya sia sia

sia sia

biar kuselesaikan sia sia ini
agar paruparu tak lagi sesak terselimut jelaga
aku ingin terbang
aku ingin bebas
aku ingin menari di udara

sambil mencibir pada mereka para dewa

“Sret...”

seketika anyir menggerayang jilati pergelangan
menghantar nanar di kesadaran
aku menatapi aku yg sendiri
mengakhiri kepiatuan hati

tak adalagi kelabu bertopengkan pelangi
tak adalagi luka bertopengkan keikhlasan
hanya darah yang mengalir di lantai lantai
menggenang

aku be?bas!

Kamis, 01 Juli 2010

Kelana Gadis Kecil


Gadis kecil itu bukan sedang menatap gemintang. Ia hanya tak ingin mentari segera bersinar, karna kabut masih tak tergenggam. Dan sampai saat ini ia masih tak tahu, mana awan yang ia cari. Mungkin awan sedang menebar hujan, hingga semua nampak kelabu pekat bagi si gadis.

Tidak! Awan tampak berarak. Hanya saja gadis itu tak tahu, mana awan yang ia punya, bahkan ia tidak yakin memiliki awan. Setiap embun menjadi peluh ia selalu begitu, menengadahkan kepala menatap langit-langit, tapi tak kunjung menemukan jawaban. Kasihan, tapi apa lacur, semua merayap pergi.

Ternyata awan itu sepupu dua kalinya anak gadis itu, ibu dari ibu awan adalah sodara dengan ayah dari ayah anak itu, mreka beberapa kali bertemu di stasiun, tapi belum saling mengenal. Dipematang sawah, sungai kecil dekat desa, dan di emperan toko. sayang, mereka tidak bertemu diatas gedung-gedung mewah. Kalau iya, pasti mereka udah loncat bunuh diri bersama-sama.

Dan gadis itu tetap tak menemukan kabut maupun awannya, meski embun telah kembali menjadi peluh terbias sinar mentari. Dia pun kembali "mengecrekan" botol plastik yang telah diisi dengan kerikil diperempatan lampu merah, demi sesuap nasi, dan demi memperpanjang sesak ini.


*Kolaborasi bersama Ullian Saputra