Rabu, 30 Juni 2010

Akhir Yang Mengenaskan


terhenyak aku di keheningan malam
suasana tampak lengang
melihat ada jejak-jejak merah
sepertinya darah

ah, darah tercecer di jalan raya

sungguh malang nasibmu
hai korban tabrak lari
tubuhmu hancur berkeping-keping
isi perutmu terburai

tikus yang malang

kendati kau mahluk pengerat
banyak yang melarat
oleh jerat-jerat

: tikus biadab!

pun kau mati meninggalkan mambu busuk
tak satupun yang iba melihat kau bersimbah darah
bahkan mereka semakin murka
menambahi menggilas tubuhmu yang telah lebur

nikmatilah mimpi indahmu di neraka

Masih Tentang Langit


Adalah dimana ketika langit mulai muak dengan prilaku mahluk yang diserahi keikhlasan oleh bumi, yang membuat bumi rusak, semerta langit pun ikut menanggung akibatnya. Ini masih tentang langit, ketika ia berkata;

"Ingin kuruntuhkan langitku! Agar mereka tersadar, siapa sejatinya mereka."

Masih Tentang Langit


ketika gelapnya berangsur membiru
lelapnya terjaga ketika sang kokok mengusir sang bulan
diganti dengan rona hangat sang surya
menyapu sisa-sisa embun yang tertinggal pada kelopak bunga
mengucapkan selamat pagi pada dunia

ini masih tentang langit
ketika suam surya menyapa
menyapa hangat para pejalan kaki
memberi semangat para petani
menyinari kuncup bunga yang tengah bermekaran
membuat burung berkicau merdu
dan bercumbu dibalik awan yang berarak

ini masih tentang langit
ketika gadis kecil bertanya;
"kemana perginya bintang?"

Masih Tentang Langit


ketika merona jingga menghiasi angkasa
menari gemulai bulan setengah bundar
tanpa gemintang

akankah bulan merindu bintang?

ah, pendar bulan nampak pucat pasi
hanya halilintar menghiasi
bukan hardiknya ingin melukai
mau bagaimanalagi?
bulan tertikam sepi
sendiri

ini masih tentang langit
ketika biduk-biduknya merayap gelap
ketika bulan terhalang awan pekat
ketika kilatan cahaya tepis sesaat

ini masih tentang langit
ketika bulan tak lagi merindu bintang
ketika bulan tak tergapai

ini masih tentang langit
ketika bulan bertanya, "kenapa aku harus ada?"

Tentang Langit


ini tentang langit
saat dia sekejap muram kelabu
saat dia bergetar hebat menggelegar
karna loncatan atom dari awan bermuatan
karna perbedaan potensial antara bumi dan awan

ini masih tentang langit
saat Dolphin bertanya, "kenapa dia murka?"

ini masih tentang langit
saat air jatuh ke bumi dengan kecepatan rendah
dengan titik-titik air memenuhi angkasa
bertanggakan udara
jatuh ke bumi

membuat tanah, reranting, rerumputan
mengeluarkan aroma petrichor
menghipnotis untuk meresonansikan ingatan masa lalu

saat hujan melagu untuk mereka yang merindu

ini masih tentang langit
saat Ranting bertanya, "darimana lahirnya hujan?"

Hembusan Angin Dimusim Panas

Sinar mentari yang terik, langit biru luas membentang, awan nampak berarak. Angin berhembus kencang, membelai lembut sekujur tubuh. Membawa dedaunan yang meninggalkan ranting berserakan di angkasa. Luruh, simpang siur mengikuti arah angin.

Sorot matamu yang sembab begitu tepat menusuk jantungku. Tak ada kata yang pantas terucap dari lidah yang kelu tanpa memperdulikan teriakan hati yang menyayat kalbu. Waktu seakan berhenti berputar, darah seakan berhenti mengalir.

“Pergilah...” Bisikku lirih.

Matamu yang sembab mulai menitikkan bulir-bulir bening, bagai bola-bola Kristal yang jatuh dari pelupuk matamu. Lututku bergetar hebat, tanpa bisa kucegah air mataku ikut luruh, melebur dengan air matamu.

Kau memelukku erat...

Mungkin waktu kan terus berlalu. Dan manusia hanyalah butir pasir berserakan di hamparan jaman, yang mengikuti kemana angin takdir berhembus. Mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi menjadi karat, mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita angankan. Walau sungguh waktu berkuasa, tapi kasihku padamu tak akan pudar olehnya.

Pergilah, pergilah sayang, tak perlu menoleh padaku. Aku akan baik-baik saja disini, tidak ada yang perlu kau cemaskan. Biarkan angin terus berhembus, biarkan musim terus berganti, dan biarkan aku membisikkan beberapa kata sebelum kau melangkah;

“Aku menantimu disini.”

Saksi Bisu Gugur Daun


ketika dedaunan mulai luruh
terombang ambing tersibak angin
menghantam batang pun akar tergoyahkan
terburai daun memenuhi angkasa

kendati akar tetap kuat menopang
tapi tetap saja daun satupersatu gugur
berjatuhan merayap ketanah
mengering seiring berjalannya waktu

dan bangku terisak lirih menyaksikan dedaunan berserakan
juga dirinya, yang semakin hari semakin lapuk dan berlumut
tiada lagi sesiapa yang bercengkrama mesra diatasnya
apa lacur, semua merayap pergi dan tak akan kembali

hanya daundaun kering terduduk bisu diatas bangku

Selasa, 29 Juni 2010

Ketika Suatu Petang


Maka pada suatu petang aku ingin sekali tertunduk menangis di sepanjang lorong. Lorong dimana tiada bias semburat senja, baik secara langsung, maupun dari pantulan kaca-kaca rumah. Entah menangisi apa, hanya ingin menangis saja tanpa ada orang yang bertanya, “Kenapa?”

Lalu juga ingin aku mengamuk menjerit-jerit berteriak mengumpat sejadi-jadinya. Kutendang tiap kaleng-kaleng yang berserakan di sepanjang jalan, lalu kukencingi pojokan, dan kupecahkan kaca yang memantulkan wajahku. Tapi aku tetap tidak ingin orang bertanya, “Kenapa?”

Maka kuputuskan hanya menangis saja sambil tertunduk lesu. Tidak dengan meraung-raung, hanya menangis tanpa suara. Dan akhirnya terpatung ketika sampai di tikungan menyaksikan langit mengabu dan menjatuhkan air bening. Lalu membiarkan air menghujam wajahku, dan aku dengan riang berkata:

“Ahhh...”

Kelabu


Saat langit bergetar, kala langit mengerang, ketika langit sudah tak mampu menahan air dari bumi yang menguap karna ego sang mentari, ia tetap mencoba menampungnya, tetap mencoba menahannya menangis. Meski terkadang kelabu tak mampu membendung dan akhirnya langitpun menangis, juga meski kelabu terberai, sekerjap menjadi putih, dan tanpa pelangi.

Coba kau tengok mega-mega kala kelabu, karna itu adalah aku...