Rabu, 30 Juni 2010

Hembusan Angin Dimusim Panas

Sinar mentari yang terik, langit biru luas membentang, awan nampak berarak. Angin berhembus kencang, membelai lembut sekujur tubuh. Membawa dedaunan yang meninggalkan ranting berserakan di angkasa. Luruh, simpang siur mengikuti arah angin.

Sorot matamu yang sembab begitu tepat menusuk jantungku. Tak ada kata yang pantas terucap dari lidah yang kelu tanpa memperdulikan teriakan hati yang menyayat kalbu. Waktu seakan berhenti berputar, darah seakan berhenti mengalir.

“Pergilah...” Bisikku lirih.

Matamu yang sembab mulai menitikkan bulir-bulir bening, bagai bola-bola Kristal yang jatuh dari pelupuk matamu. Lututku bergetar hebat, tanpa bisa kucegah air mataku ikut luruh, melebur dengan air matamu.

Kau memelukku erat...

Mungkin waktu kan terus berlalu. Dan manusia hanyalah butir pasir berserakan di hamparan jaman, yang mengikuti kemana angin takdir berhembus. Mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi menjadi karat, mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita angankan. Walau sungguh waktu berkuasa, tapi kasihku padamu tak akan pudar olehnya.

Pergilah, pergilah sayang, tak perlu menoleh padaku. Aku akan baik-baik saja disini, tidak ada yang perlu kau cemaskan. Biarkan angin terus berhembus, biarkan musim terus berganti, dan biarkan aku membisikkan beberapa kata sebelum kau melangkah;

“Aku menantimu disini.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar