
Maka pada suatu petang aku ingin sekali tertunduk menangis di sepanjang lorong. Lorong dimana tiada bias semburat senja, baik secara langsung, maupun dari pantulan kaca-kaca rumah. Entah menangisi apa, hanya ingin menangis saja tanpa ada orang yang bertanya, “Kenapa?”
Lalu juga ingin aku mengamuk menjerit-jerit berteriak mengumpat sejadi-jadinya. Kutendang tiap kaleng-kaleng yang berserakan di sepanjang jalan, lalu kukencingi pojokan, dan kupecahkan kaca yang memantulkan wajahku. Tapi aku tetap tidak ingin orang bertanya, “Kenapa?”
Maka kuputuskan hanya menangis saja sambil tertunduk lesu. Tidak dengan meraung-raung, hanya menangis tanpa suara. Dan akhirnya terpatung ketika sampai di tikungan menyaksikan langit mengabu dan menjatuhkan air bening. Lalu membiarkan air menghujam wajahku, dan aku dengan riang berkata:
“Ahhh...”
Lalu juga ingin aku mengamuk menjerit-jerit berteriak mengumpat sejadi-jadinya. Kutendang tiap kaleng-kaleng yang berserakan di sepanjang jalan, lalu kukencingi pojokan, dan kupecahkan kaca yang memantulkan wajahku. Tapi aku tetap tidak ingin orang bertanya, “Kenapa?”
Maka kuputuskan hanya menangis saja sambil tertunduk lesu. Tidak dengan meraung-raung, hanya menangis tanpa suara. Dan akhirnya terpatung ketika sampai di tikungan menyaksikan langit mengabu dan menjatuhkan air bening. Lalu membiarkan air menghujam wajahku, dan aku dengan riang berkata:
“Ahhh...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar