Gadis kecil itu bukan sedang menatap gemintang. Ia hanya tak ingin mentari segera bersinar, karna kabut masih tak tergenggam. Dan sampai saat ini ia masih tak tahu, mana awan yang ia cari. Mungkin awan sedang menebar hujan, hingga semua nampak kelabu pekat bagi si gadis.
Tidak! Awan tampak berarak. Hanya saja gadis itu tak tahu, mana awan yang ia punya, bahkan ia tidak yakin memiliki awan. Setiap embun menjadi peluh ia selalu begitu, menengadahkan kepala menatap langit-langit, tapi tak kunjung menemukan jawaban. Kasihan, tapi apa lacur, semua merayap pergi.
Ternyata awan itu sepupu dua kalinya anak gadis itu, ibu dari ibu awan adalah sodara dengan ayah dari ayah anak itu, mreka beberapa kali bertemu di stasiun, tapi belum saling mengenal. Dipematang sawah, sungai kecil dekat desa, dan di emperan toko. sayang, mereka tidak bertemu diatas gedung-gedung mewah. Kalau iya, pasti mereka udah loncat bunuh diri bersama-sama.
Dan gadis itu tetap tak menemukan kabut maupun awannya, meski embun telah kembali menjadi peluh terbias sinar mentari. Dia pun kembali "mengecrekan" botol plastik yang telah diisi dengan kerikil diperempatan lampu merah, demi sesuap nasi, dan demi memperpanjang sesak ini.
*Kolaborasi bersama Ullian Saputra
Tidak! Awan tampak berarak. Hanya saja gadis itu tak tahu, mana awan yang ia punya, bahkan ia tidak yakin memiliki awan. Setiap embun menjadi peluh ia selalu begitu, menengadahkan kepala menatap langit-langit, tapi tak kunjung menemukan jawaban. Kasihan, tapi apa lacur, semua merayap pergi.
Ternyata awan itu sepupu dua kalinya anak gadis itu, ibu dari ibu awan adalah sodara dengan ayah dari ayah anak itu, mreka beberapa kali bertemu di stasiun, tapi belum saling mengenal. Dipematang sawah, sungai kecil dekat desa, dan di emperan toko. sayang, mereka tidak bertemu diatas gedung-gedung mewah. Kalau iya, pasti mereka udah loncat bunuh diri bersama-sama.
Dan gadis itu tetap tak menemukan kabut maupun awannya, meski embun telah kembali menjadi peluh terbias sinar mentari. Dia pun kembali "mengecrekan" botol plastik yang telah diisi dengan kerikil diperempatan lampu merah, demi sesuap nasi, dan demi memperpanjang sesak ini.
*Kolaborasi bersama Ullian Saputra

Tidak ada komentar:
Posting Komentar